Jumat, 19 Juni 2020
CARA MUDAH MENULIS SASTRA
Jumat, 12 Juni 2020
PROSES MENULIS PENTIGRAF
Rabu, 10 Juni 2020
MENANAMKAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI PEMBELAJARAN IPS
Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan manusia. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Pesatnya perkembangan IPTEK ditandai dengan hadirnya teknologi canggih yang dapat membantu aktivitas manusia. Perkembangan IPTEK dapat memfasilitasi kegiatan usaha semakin lancar sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan. Namun demikian berkembangnya IPTEK juga menimbulkan dampak negatif. (Iwan Setiawan dkk, 2016, Ilmu Pengetahuan Sosial, Jakarta, Kemendikbud, halaman 173). Penggunaan teknologi canggih pada zaman modern ini tak bisa kita hindari. Setiap individu bisa memanfaatkan teknologi secara bebas untuk berbagai kepentingan. Modernitas yang menawarkan kebebasan individual bila tak diimbangi dengan karakter individu yang baik bisa menimbulkan perilaku tidak terpuji. Banyak orang yang menyalahgunakan teknologi untuk mencapai tujuan tertentu. Ada pihak tertentu yang sengaja mencari keuntungan pribadi di tengah perubahan yang serba cepat. Hal ini terjadi pada semua lapisan masyarakat. Tingginya tingkat korupsi, dan rendahnya produktivitas pekerja menunjukkan bahwa karakter masyarakat Indonesia belum kuat. Doni Koesoema (2007:286) menyebutkan bahwa dunia pendidikan Indonesia mengalami penyakit kronis yang mengancam jiwa orang lain dan peserta didik.
Senin, 01 Juni 2020
MENULIS CERITA UNTUK MEMOTIVASI SISWA
“Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah.” (Pramoedya Ananta Toer, House of Glass)
Kutipan
di atas menginspirasi banyak orang untuk menjadi penulis. Setiap orang bisa menjadi
penulis. Tak ada batasan bahwa penulis harus pandai atau harus orang baik. Bila
didasarkan pada syarat tersebut pasti sangatlah sedikit orang yang bisa menjadi
penulis. Termasuk saya pasti sudah tak memenuhi syarat. Penulis itu orang yang
merdeka. Jiwanya tak bisa dikungkung. Selalu penuh ide dan kepuasan batinnya
tak bisa diukur dengan materi. Soal mendapat honor atau mendapat gelar sebagai pengarang atau sastrawan, anggap
saja itu bonus.
Menulis Membuat Hati
Gembira
Bagi saya menulis itu bisa membuat hati gembira karena bisa
berbagi banyak hal. Saya sangat bahagia bila tulisan saya dibaca oleh banyak
orang dan bisa menjadi inspirasi. Melaluii tulisan, saya bisa menyebarluaskan
virus kebaikan dan memberikan sugesti positip kepada pembaca. (Karena saya
sebagai guru terutama memberikan motivasi dan sugesti positip kepada para
siswa). Ide-ide kreatif yang ada di benak saya bisa lebih bermanfaat bila
disampaikan kepada banyak orang tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Bisa di
mana saja dan kapan saja. Hanya tulisan yang bisa melampaui batas ruang dan
waktu. Bila hanya melalui bahasa lisan, ruang dan waktu yang kita jangkau
sangatlah terbatas. Tetapi bila dituangkan menjadi tulisan pengaruhnya akan
jauh lebih luas. Sampai kita matipun ide-ide kreatif dan virus kebaikan yang
kita sampaikan akan tetap hidup.
Guru
memiliki ruang yang sangat strategis untuk menyebarkan virus kebaikan dan
ide-ide kreatif. Para siswa bukan hanya sebagai obyek namun juga berperan
sebagai corong yang luar biasa untuk menyebarluaskan kabar gembira dan kebaikan
bagi sesama. Saya selalu bahagia bila melihat para siswa. Bagi saya mereka
adalah para juara. Di wajah mereka saya membayangkan masa depan Indonesia lima
belas tahun lagi menjadi seperti apa. Saya mengajak siswa kelas 7 untuk
membayangkan dan menghitung lima belas tahun lagi mereka akan
menjadi seperti apa. Logikanya bila sekarang kelas 7 maka tiga tahun lagi akan
masuk SMA/SMK. Tiga tahun berikutnya masuk perguruan tinggi dan bila lancar
empat tahun meraih gelar sarjana. Sepuluh tahun untuk belajar dan 5 tahun untuk
berjuang meraih pekerjaan dan penghidupan yang layak. Waktu lima belas tahun
itu bisa menjadi salah satu indikator untuk melihat keberhasilan siswa kelas 7
yang saya bimbing saat ini. Tentu saja ini ukuran menurut kaca mata saya. Boleh
percaya boleh tertawa.
Mengajar
kelas 7 itu sangat menyenangkan. Walaupun sangat kekanak-kanakan, mereka justru
lebih menantang. Menurut saya di kelas 7 inilah saat yang lebih tepat untuk menanamkan
nilai-nilai kepribadian dan pembentukan karakter. Pada umumnya para siswa kelas
7 yang saya bimbing suka mendengarkan cerita. Saya memanfaatkan hal itu untuk
memasukkan nilai-nilaii moral, hakekat hidup dan Ketuhanan sesuai iman dan
kepercayaan mereka. Dari tahun ke tahun saya semakin mengenal karakter siswa.
Pada umumnya mereka suka mendengarkan cerita dan malas membaca. Saya berpikir
bagaimana caranya menumbuhkan minat baca di kalangan mereka. Saya ajak mereka
keluar kelas dan melihat pohon asam yang rindang menghijau dihalaman SMP Negeri
1 Ngawi. Mereka saya ajak mengamati dan berimajinasi tentang pohon asam itu.
Selanjutnya mereka saya beri tugas untuk menuliskan apa saja menurut gaya dan
kemampuannya. Sekitar 30 menit belum ada satupun yang menunjukkan hasilnya. Ada
yang hanya menuliskan beberapa kalimat, bahkan ada yang tidak menuliskan
apa-apa. Saat itu saya mencoba membaur bersama mereka dan berusaha menjadi
mereka. Saya juga menulis bersama mereka. Sekitar 10 menit kemudian saya
tawarkan kepada mereka untuk membacakan tulisan saya. Mereka berebut untuk
membaca. Saat itu muncul ide di benak saya. “Bila ingin mendorong
mereka rajin membaca dan menulis, maka saya harus memberi contoh dalam tindakan
nyata.”
Pengalaman Berharga
Selain menulis untuk bahan pengajaran dengan gaya yang santai
sesuai karakter siswa yang saya bimbing, sesekali saya menulis di majalah.
Diantaranya di Media Pendidikan Jatim. Saya tunjukkan tulisan yang dimuat di
majalah tersebut dan mereka sangat antusias. Saya menulis sejak masih kuliah
(1987). Dari menulis saya bisa mendapatkan honor yang bisa untuk
menopang biaya kuliah. Saya sudah menulis beberapa buku (Novel, Kumpulan
Cerpen dan Antologi Puisi). Diantara sekian banyak siswa yang saya bimbing
ternyata ada satu yang sangat tertarik dengan apa yang saya lakukan. Sugesti
positip yang saya tanamkan membuatnya sangat mencintai pelajaran IPS. Orang
tuanya sangat heran melihat perubahan anaknya. Suatu hari orang tuanya (ayahnya
seorang wira usaha dan ibunya seorang guru) menyampaikan terima kasih kepada
saya karena perubahan besar yang terjadi pada anaknya. Kata mereka (ayah dan
ibu siswa saya yang berinisial BA, maaf saya sengaja tak menyebutkan nama
terang) anaknya sering menceritakan kekagumannya kepada saya. Saya hanya
tertawa dan mengatakan kepada mereka bahwa anaknya memang pandai. Saya katakan
bahwa guru itu tidak bisa membuat siswanya pandai. Pandai itu bawaan lahir.
Saya hanya membantu mengembangkan potensi yang dimiliki. Walaupun siswa ini
hanya saya bimbing satu semester tetapi diam-diam selalu terjalin komunikasi
dengan saya tanpa sepengetahuan guru yang mengajarnya. Dia senang bertanya
tentang banyak hal. Ternyata dia sering menceritakan banyak hal tentang
kekagumannya kepada saya. Hal itu kuketahui dari cerita orang tuanya.
Ketika
siswa ini menjadi juara OSN IPS tingkat Kabupaten Ngawi, orang tuanya tampak
gembira dan bangga. Mereka menemui saya dan menyampaikan ungkapan terima
kasihnya. Namun saya katakan bahwa yang membimbing anaknya sehingga menjadi
juara bukan hanya saya melainkan semua Bapak Ibu guru IPS. Saya hanya
memotivasi saja. Saya menyampaikan permohonan kepada orang tua siswa tersebut
supaya bersikap wajar saja. Saya tidak ingin menimbulkan kecemburuan diantara
guru maupun siswa. Mereka sangat memahami alasan saya.
Pada
tahun ini (2020) siswa saya yang hebat itu sudah lulus SMA 2 Madiun dan
diterima di Universitas Airlangga. Sampai saat ini komunikasi saya dan orang
tuanya terjalin dengan baik. Beliau sering berbagi informasi tentang prestasi
yang dicapai putranya. Beliau sangat bahagia mengetahui bahwa
prestasi putranya bagus. Saya pun merasa bangga dan tak lupa mengucapkan
selamat kepada beliau dan tentu saja juga kepada siswa saya yang hebat itu. Di
luar dugaan, saya mendapat sebuah kejutan. Saya diberi hadiah sepotong batik
khas Magetan sebagai tanda cinta. Saya terima hadiah itu dengan suka cita dan
penuh syukur. Kupeluk siswa hebatku dan kubisikkan pesan, “Raihlah bintang yang
lebih tinggi dan tetaplah rendah hati...”
Setiap pengalaman itu istimewa. Apalagi bila kita bisa menuliskan dan
mendokumentasikannya dengan baik. Saat ini pengalaman itu mungkin biasa saja,
namun sepuluh tahun lagi atau lima belas tahun lagi mungkin akan menjadi
kenangan yang indah. Karya yang kita hadirkan dalam bentuk tulisan akan menjadi
kenangan abadi. Walaupun kita mati karya kita akan tetap dikenang. Maka
teruslah menulis sebelum nama kita ditulis di batu nisan.
Mari kita sukseskan gerakan literasi.
Ngawi,
2 Juni 2020.
Rabu, 20 Mei 2020
MEMBRANDING KEDUK BEJI MENJADI PESONA WISATA NGAWI
Tanpa
basa-basi saya ingin berbagi inspirasi melalui karya literasi yang terbaik
untuk Anda. Tak perlu diragukan lagi karena yang saya bagikan pasti yang
terbaik. Buktikan saja dengan membaca dan mengambil patisari artikel berikut
ini. Artikel yang berjudul “Membranding Keduk Beji Menjadi Pesona Wisata Ngawi”
ini merupakan juara I (Pertama) dalam
rangka Hari Pers Nasional tahun 2020.
MEMBRANDING KEDUK BEJI
MENJADI PESONA WISATA NGAWI
Oleh: Budi Hantara
Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) menawarkan berbagai kemudahan bagi manusia, namundisisilain menimbulkan dampak negatif yang harus disikapi secara bijaksana. Kita tak boleh berpandangansempit dan menutup diri dari perkembangan iptek. Jangan melihat kemajuan iptek hanya dari satu sudut pandang negatif dan mengabaikan manfaatnya bagi kehidupan. Karena tujuan utama menciptakan teknologi adalah untuk perubahan kehidupan masa depan manusia yang lebih baik, mudah, murah, cepat dan aman.
Tak bisa dipungkiri bahwa di era
globalisasi ini, perkembangan iptek
begitu pesat. Pengaruh perkembangan
iptek dalam berbagai bidang kehidupan begitu besar. Perubahan yang begitu cepat
di era globalisasi ini bila tidak
disikapi secara bijaksana bisa menjadi ancaman. Tergesernya budaya lokal atau
tradisi oleh budaya global bisa menyebabkan kita tercabut dari akar budaya sendiri.
Jati diri bangsa tergerus roda zaman yang melaju begitu cepat. Persoalan yang
kita hadapi menjadi rumit karena generasi muda semakin tidak tertarik terhadap
tradisi yang penuh kearifan lokal. Mereka menganggap bahwa sesuatu yang berbau
tradisi itu kuno atau ketinggalan zaman.
Kondisi seperti ini mendorong
Pemerintah Kabupaten Ngawi untuk terus berkomitmen dalam upaya melestarikan
tradisi. Komitmen Pemerintah Kabupaten Ngawi dibuktikan melalui kegiatan
tahunan tradisi Keduk Beji. Perayaan Keduk Beji yang sekarang sudah menjadi
agenda tahunan, tak bisa dipisahkan dari sejarah desa tawun. Menurut sejarah
patih Matawun sebagai cikal bakal lahirnya desa Tawun Kecamatan Kasreman.
Selain untuk melestarikan tradisi, kegiatan tersebut sebagai upaya akselerasi
pembangunan di sektor pariwisata. Untuk mewujudkan mimpi besar itu maka Keduk
Beji perlu dibranding menjadi pesona wisata Ngawi.
Membranding Keduk Beji
Membranding
adalah cara untuk mengkomunikasikan pesan dari sebuah produk bisnis kepada para
konsumen. Dalam kajian ini produk yang dibranding adalah tradisi Keduk Beji
sebagai salah satu potensi wisata budaya Ngawi. Wisata budaya adalah satu jenis
kegiatan pariwisata yang menggunakan kebudayaan sebagai obyeknya. Ada beberapa
unsur kebudayaan yang dapat menarik kedatangan para wisatawan, antara lain:
tradisi, kesenian dan sejarah. Keduk Beji merupakan tradisi yang memiliki latar
belakang sejarah sangat menarik. Tinggal dibranding secara kreatif maka Keduk
Beji bisa menjadi pesona wisata unggulan
Ngawi. Ada beberapa jenis branding, antara lain: Cultural Branding, Product
Branding dan Geographic Branding. Keduk Beji bisa dibranding dengan Cultural
Branding dan Geographic Branding.
Cultural Branding yaitu suatu usaha
pemberian brand atau identitas yang disesuaikan dengan reputasi suatu daerah tertentu.
Dalam hal ini merujuk pada desa Tawun Kecamatan Kasreman Kabupaten Ngawi.
Dengan potensi yang dimiliki desa Tawun, maka Tawun bisa dibina menuju desa
budaya. Untuk menuju ke sana perlu pembinaan dari dinas terkait. Sedangkan Geogrphic Branding merupakan sebuah
usaha pemberian identitas yang memiliki tujuan untuk memunculkan gambaran
sebuah produk yang identik dengan nama sebuah lokasi sehingga bila lokasi itu
disebut, maka orang akan langsung mengingat brand tersebut.
Bila
Keduk Beji dibranding dengan tepat maka akan sangat bermanfaat, antara lain:
- Memberi
kesan yang baik agar para pengunjung semakin tertarik dan bahkan ingin datang
kembali.
- Membuka
jalan untuk dikenal masyarakat lebih luas, baik dari logonya atau dari unsur
lainnya yang khas.
Ada beberapa
unsur branding yang harus diperhatikan supaya tujuan kita membranding Keduk
Beji menjadi pesona wisata Ngawi tercapai. Unsur-unsur tersebut meliputi;
1. Nama
Merek/Nama Obyek.
Nama adalah hal pertama dan
utama yang harus dipenuhi jika kita akan melakukan branding. Tanpa sebuah nama,
maka produk yang kita tawarkan tidak akan memiliki identitas yang memudahkannya
untuk dikenali masyarakat. Demikian juga dengan pemilihan nama yang menarik
untuk obyek wisata. Nama Wahana Keduk
Beji lebih menarik daripada Pemandian Tawun yang digunakan selama
ini.
2. Logo
Dalam membuat logo harus
memperhatikan faktor keunikan dan image sesuai dengan brand atau nama merek.
Logo yang unik akan meninggalkan kesan tak terlupakan. Setelah kita menggunakan brand Wahana Keduk
Beji harus menentukan logo yang sesuai. Image yang tertanam di benak masyarakat
Ngawi selama ini adalah bulus karena di sekitar sumber air Wahana Keduk beji
ini banyak dijumpai bulus. Dengan demikian maka tinggal membuat logo bulus yang
distilir sedemikian rupa sehingga menjadi unik dan menarik.
3. Kemasan/Tampilan
Visual
Supaya menarik maka kemasan
sebaiknya menggunakan warna cerah atau elegan untuk menambah pencitraan yang
berkualitas. Bila ingin tampak indah maka sebaiknya gunakan jasa seniman yang
kompeten.
4. Penggunaan
Juru Bicara
Juru bicara di sini
berfungsi sebagai bintang iklan atau pemandu yang betul-betul memahami
keunggulan Wahana Keduk Beji sehingga mampu memberikan informasi yang lengkap
dan menarik. Sebaiknya menggunakan tokoh idola atau maskot untuk meningkatkan
daya tarik. Kabupaten Ngawi yang setiap tahun mengadakan pemilihan Dimas
Diajeng bisa memberdayakan ajang ini untuk mendukung suksesnya Wahana Keduk
Beji. Dimas Diajeng yang terpilih bisa berperan sebagai Duta Wisata yang
potensial untuk menjadi Juru Bicara.
5. Lagu
Tematik
Sebuah lagu yang
menggambarkan tentang Wahana Keduk Beji akan melengkapi unsur visual branding
sehingga menjadi lebih indah dan melekat di hati setiap pengunjung.
6. Slogan
Slogan yang cerdas selalu
meninggalkan kesan mendalam. Gunakan unsur ceria dan positif, mudah diingat dan
beda dari brand lain. Misalnya menggunakan slogan “Keduk Beji Membumi di Negeri
Ngawi”.
Secara
konseptual upaya membranding Keduk Beji sudah cukup panjang lebar diuraikan di
atas. Selanjutnya tinggal bagaimana realisasinya. Pemerintah harus bersinergi
dengan masyarakat. Sebaiknya pemerintah Kabupaten Ngawi melibatkan para pelaku
industri kreatif dalam pengelolaan pariwisata. Dukungan atas keberadaan
industri kreatif harus serius dilakukan oleh semua pihak, sebab inilah tuntutan
era kompetensi global yang tidak saja melibatkan industri kreatif di satu sisi
dan pemerintah di sisi lain, tetapi juga melibatkan beragam kreativitas di
lintas sektoral, khususnya memanfaatkan teknologi informasi.
Jika
kita lamban memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pengembangan industri kreatif
dan pariwisata, maka kita akan tertinggal. Padahal Ngawi memiliki banyak
potensi berupa produk barang dan jasa yang mampu mendukung sektor pariwisata,
baik di bidang produk seni, budaya hingga karifan lokal. Jangan terlena atau
mengeluh karena globalisasi menimbulkan banyak problema. Tantangan sebagai
dampak globalisasi harus kita hadapi secara bijaksana. Globalisasi bisa membuat
kita lebih kreatif. Persaingan produk tidak hanya pada kualitas barang dan
jasa, melainkan juga soal kreativitas branding dan menejemen pemasarannya.
Dalam hal ini yang kita pasarkan adalah Wahana Keduk Beji sebagai pesona wisata
Ngawi.
Masyarakat
Ngawi pada umumnya dan generasi milenial khususnya harus mengandalkan ide-ide
segar untuk menghasilkan nilai tambah ekonomi. Karena sejatinya dasar ekonomi
kreatif adalah “how people make money from ideas” (John Howkins 1996). Jadi
pilar utama kesuksesan sebuah usaha bukan uang atau mesin sebagai faktor
produksi, melainkan ide-ide baru dan segar, fleksibel, penuh kreativitas dan
inovasi.
Untuk
mengelola Wahana Keduk Beji, selain membranding seperti yang telah diuraikan di
depan perlu langkah nyata sebagai berikut:
1. Menanamkan
rasa bangga dan ikut memiliki Wahana Keduk Beji melalui kegiatan literasi.
Rasa bangga dan ikut memiliki
Wahana Keduk Beji bisa ditanamkan sejak dini di hati orang Ngawi. Caranya
sederhana. Legenda Keduk Beji dibukukan, selanjutnya didistribusikan ke seluruh
sekolah dan perpustakaan di wilayah Kabupaten Ngawi. Bila setiap satu sekolah
memiliki buku Legenda Keduk Beji dan para guru
mendorong peserta didik untuk membacanya maka mereka akan mengenal dan
mencintai daerahnya. Melalui kegiatan literasi di sekolah hasilnya akan lebih
nyata. Selama ini belum ada buku-buku tentang Legenda Ngawi yang penuh kearifan
lokal, maka tak mengherankan bila anak-anak Ngawi kurang mengenal potensi
wisata budaya di daerahnya.
2. Mengadakan
pameran budaya
Untuk lebih mengenalkan
Wahana Keduk Beji kepada masyarakat luas, sebaiknya sebelum puncak kegiatan
ritual Keduk Beji diselenggarakan pameran budaya. Supaya lebih meriah maka
pameran budaya perlu menggandeng para pelaku bisnis industri wisata di kota Ngawi
dan kabupaten sekitar. Manfaatkan momentum ini untuk membuat semua pihak
terpana dan kagum pada Keduk Beji. Pesta budaya yang dibuat spektakuler
tersebut perlu dipublikasikan secara besar-besaran. Libatkan media cetak dan
elektronik berskala nasional untuk memublikasikan kegiatan tersebut. Semakin
gencar dan luas jangkuan pemberitaan maka dampaknya semakin menguntungkan.
Apabila Pemerintah Kabupaten Ngawi bersinergi dengan seluruh lapisan masyarakat, niscaya mimpi besar untuk mengembangkan Wahana Keduk Beji sebagai pesona wisata Ngawi pasti akan menjadi kenyataan. Semoga semua pihak memiliki keinginan yang sama untuk memajukan sektor pariwisata di Kabupaten Ngawi.
Ngawi,
31 Januari 2020
